Senin, 09 Juni 2014

cara mengolah gula aren








www.soleha eha

POHON AREN/ POHON NAUW


HASIL OLAHAN GULA AREN DAN CARA PEMBUATANNYA

Aren, arenga pinnata merupakan tanaman multiguna, karena tanaman ini selain sebagai sumber produksi berbagai macam produk yang bernilai ekonomis seperti gula, kolang-kaling, ijuk, bahan bangunan, tepung aren, juga berfungsi sebagai tanaman pencegah erosi tanah.       Provinsi Nusa tenggara Barat dikenal sebagai salah satu sentra produksi aren di Indonesia dengan luas areal tanaman lebih dari 1.633 ha. Gula aren sebagai hasil utama dengan produksi setiap bulan dapat mencapai 196,99 ton/bulan. Sementara itu kebutuhan gula aren pasar mencapai 520,75 ton/bulan dengan demikian prospek agribisnis aren cukup potensial. Usaha untuk meningkatkan produksi dan kualitas gula aren terus dilakukan baik oleh Pemerintah dan Masyarakat Kahususnya di desa langko Kecamtan Lingsar Lombok barat melalui berbagai program antara lain membangun kemitraan usaha, pembinaan teknik pembibitan dan budidaya aren, serta peningkatan mutu dan deiversifikasi produk olahan gula aren
Gula aren memiliki keunggulan dan sifat khas yang tidak dimiliki oleh gula lain (gula tebu dan siwalan) antara lain tingginya kandungan sukrosa (84 %), protein (2,28 %) kalsium (1,35 %) dan posfor (1,37 %). Dengan demikian mengkonsumsi gula aren dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan (Tabel 1). Tabel 1. Komposisi kimia gula aren, gula tebu dan gula siwalan per 100 gr.











Berbagai bentuk olahan gula aren  adalah gula cetak, gula semut aren dan gula jahe-aren dengan hasil analisis kimia (Tabel 2).
Tabel 2. Komposisi kimia produk olahan gula aren per 100 gr



Sumber : 


PENGOLAHAN GULA AREN
Bahan baku gula aren adalah nira yang di peroleh melalui penyadapan dengan cara mengiris ujung lengan bunga jantan. Sebelum pengirisan dilakukan untaian bunga jantan diikat dan diayun ayun. Bersamaan dengan mengayun, lengan bunga jantan dipukul pukul dengan gendir atau paninggur. Hal ini dilakukan untuk membuka aliran nira dari batang pohon. Nira akan mengalir dari bekas irisan dan ditampung dengan menggunakan sebuah lodong.
Nira memiliki sifat mudah mengalami kerusakan sehingga petani umumnya memberikan akar kawao pada lodong sebagai bahan pengawet alami. Bahan pengawet alami lain yang dapat digunakan antara lain kulit pohon manggis dan asap cair tempurung kelapa. Kualitas nira hasil penyadapan sangat menentukan terhadap mutu gula yang dihasilkan. Ciri-ciri nira yang berkualitas antara lain berwarna bening, rasanya manis, berbau harum, derajat keasaman (pH) 6 – 7 dan kadar sukrosa lebih dari 12.
Pembuatan gula aren diawali dengan penyaringan nira dengan tujuan memisahkan kotoran yang terdapat pada lodong selama penyadapan. Nira dipanaskan dengan kompor atau kayu bakar dengan suhu 100 – 117 oC hingga nira menjadi kental atau jenuh. Untuk menghasilkan gula cetak nira yang telah jenuh selanjutnya dituangkan pada cetakan dan didiamkan selama beberapa menit agar gula menjadi keras. Selanjutnya cetakan dapat dipisahkan dengan gula cetak. Berbeda dengan pembutaan gula semut, ketika nira telah mengental (jenuh) nira tetap berada pada wajan dan didiamkan sekitar 10 menit, selanjutnya di lakukan pengadukan hingga terbentuk gula dengan ukuran kecil (gula semut). Agar ukuran gula semut seragam maka di lakukan pengayakan..
Beberapa indikator mutu gula aren antara warna, bentuk, kadar air dan rasa. Indikator tersebut biasanya saling berpengaruh terhadap yang lainnya. Gula aren yang memiliki mutu tinggi umumnya berwarna kuning, cerah, tekstur keras dan rasa manis. Gula yang berwarna kuning mencerminkan tingginya kandungan gula sukrosa dan biasanya gula tersebut memiliki tekstur keras, rasa lebih manis dan umur simpan yang lebih tinggi.




Manfaat dan khasiat gula aren :
1. Sumber energi

2. Pewarna alami pada makanan

3. Membantu pencernaan, karena kandungan serat cukup tinggi

4. Menghambat penyerapan kolesterol oleh tubuh